Banner Sponsor

Sejarah Hingga Tantangannya Revolusi Industri 1.0-4.0


Pada Revolusi industri 1.0 yang dimulai pada abad ke-18 itu ditandai dengan penemuan mesin uap untuk upaya peningkatkan produktivitas yang bernilai tinggi. Misalnya di Inggris, saat itu, perusahaan tenun menggunakan mesin uap untuk menghasilkan produk tekstil. Istilah ini pertama kali muncul sekitar tahun 1750-an. Pada masa tersebut, terjadi perubahan secara besarbesaran dalam bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi. Revolusi bermula ketika mesin bertenaga air dan uap dikembangkan untuk membantu pekerja. Mesin-mesin itu menggantikan tenaga manusia dan hewan untuk meningkatkan kemampuan produksi. Perubahan ini memiliki dampak besar terhadap kondisi ekonomi, sosial, dan budaya dunia. Sejarah bahkan mencatat, revolusi ini berhasil menaikkan perekonomian dunia selama dua abad berikutnya Revolusi Industri 2.0 Pada awal abad 20 Revolusi Industri 2.0 terjadi proses produksi revolusi ini memang sudah cukup berkembang, tenaga otot tidak lagi banyak diperlukan pabrik pada umumnya telah menggunakan tenaga mesin uap ataupun listrik, namun kendala lain ditemukan dalam proses produksi, yaitu proses transportasi. Sehingga hal yang memudahkan proses produksi di dalam pabrik yang umumnya cukup luas, alat transportasi untuk pengangkutan barang berat seperti mobil sangat diperlukan. Sebelum Revolusi 2.0 proses perakitan mobil harus dilakukan disatu tempat yang sama demi menghindari proses transportasi dari tempat spare part satu ke tempat spare part lainnya.

Kemunculan Revolusi Industri 3.0  merupakan teknologi  digital dan internet menandainya dimulainya dari revolusi industri 3.0 hingga sekitar akhir abad ke-20, penemuan dan pembuatan perangkat elektronik memungkinkan otomatisasi mesin secara lebih penuh. Periode ini melahirkan perangkat lunak untuk memanfaatkan perangkat keras elektronik. Menurut Pandangan David Harvey revolusi industri 3.0 atau juga sering disebut revolusi digital adalah prose pemampatan ruang dan waktu sehingga yang artinya, waktu dan ruang tidak lagi berjarak. Revolusi ini juga mengubah pola relasi dan komunikasi masyarakat kontemporer. Praktik bisnis pun berubah mengikuti revolusi ini. Apalagi saat itu tekanan untuk mengurangi biaya cukup kuat. Akibatnya, produsen mulai memilih mesin ketimbang manusia. Tak hanya itu, produsen juga mulai memindahkan pabrik-pabriknya ke negara berbiaya rendah.

Revolusi industri 4.0 menjadi pembahasan pada debat capres pada awal 2019 yang lalu. Meski cukup populer, banyak masyarakat yang masih bingung tentang revolusi industri 4.0 ini. Terlansir dari salah satu laman sekolah vokasi Universitas Gadjah Mada istilah revolusi industri sendiri merujuk pada perubahan yang terjadi pada manusia dalam melakukan proses produksinya pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, terjadi revolusi industri 2.0 yang dirangkum dari dari laman APICS.org, pada masa tersebut, listrik mulai menggantikan tenaga air dan uap sebagai sumber daya utamanya. Penemuan listrik dan motor pembakaran dalam (combustionchamber) memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dan lain-lain sehingg listrik dianggap lebih mudah digunakan untuk mesin dibanding dua sumber daya sebelumnya. Periode ini juga memicu perkembangan sejumlah program manaheman yang meningkatkan efisiensi dan efektivitas fasilitas manufaktur. Hasilnya, peningkatan produktivitas berkali lipat.

Semuanya bertujuan untuk menekan biaya produksi tapi tetap melakukan reproduksi besar pada revolusi industri generasi 4.0 manusia telah menemukan pola baru ketika disruptif teknologi  atau disruptivetechnology hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan yang telah berjaya bertahun-tahun. Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industri ini telah banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa. Ukuran perusahaan tidak lagi menjadi jaminan. Kelincahan para pengusaha dituntut dalam hal ini, terutama karena hubungan internet of things (IOT) dan teknik manufaktur memungkinkan sistem untuk berbagi informasi, menganalisisnya, dan menggunakannya sebagai tindakan cerdas. Perkembangan teknologi baru telah menjadi pendorong utama pergerakan menuju revolusi industri 4.0 ini.

Tantangan Industri 4.0 Bisa Mengubah Cara Hidup
Diungkap teknisi dan ekonom juga pendiri Executive Chairman World Economic Forum asal Jerman, Klaus Martin Schwab mengingatkan  Saat ini kita berada pada awal sebuah revolusi yang secara fundamental mengubah cara hidup, bekerja dan berhubungan satu sama lain.
Industri 4.0 memberikan dampak signifikan, misalnya berkurangnya sumber daya manusia karena digantikan oleh mesin atau robot. 

Berikut dampak dari industri 4.0, mengutip owlcation:
1. Mesin Menggantikan Orang
Dalam sejarah revolusi industri, mesin dikembangkan dan dapat melakukan banyak pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh manusia.
Pabrik-pabrik bermunculan untuk menampung mesin-mesin manufaktur baru. Praktik kerja semakin sesuai dengan kebutuhan mesin, dimana waktu dan upayadalam bekerja diawasi dengan ketat untuk efisiensi.

2. Lebih Banyak Orang Tinggal di Kota
Sebelum revolusi industri, sebagian besar masyarakat tinggal di pedesaan, dan membuat segala sesuatu di rumah. Setelah industralisasi, masyarakat lebih banyak memilih tinggal di kota, karena barang-barang diproduksi secara massal di pabrik menggunakan mesin.
Bahkan ada juga orang yang terpaksa pindah ke kota karena upahnya yang tinggi, dan juga tingkat pelayanan yang lebih baik.

3. Produksi Pakaian dan Kain Berubah
Sebelum industrialisasi, masyarakat umumnya membuat pakaian di rumah, pedagang sering memberi para pembuat pakaian bahan baku dan peralatan penting. Kemudian mengumpulkan dan menjual produk jadi untuk mereka.
Industrialisasi berarti bahwa pakaian dan kain dapat diproduksi secara massal, membuatnya jauh lebih murah daripada buatan sendiri. Dengan munculnya alat pemintal alat tenuan listrik oleh Jenny.

4. Revolusi Industri Menciptakan Sistem Ekonomi Baru
Yang dikenal sebagai Revolusi Industri secara efektif menciptakan sistem ekonomi baru, Sebelum itu Kapitalisme Industri  para pedagang adalah orang-orang terpenting dalam perdagangan dan ekonomi. Industri 4.0 memberikan segalanya lebih cepat, sistem ekonomi yang kini telah beralih ke sistem online. Misalnya, melakukan transaksi jual-beli menggunakan aplikasi menggunakan handphone.

5. Industrialisasi Menyebabkan Masalah Baru
Meskipun efek keseluruhan dari industrialisasi adalah positif bagi kebanyakan orang, ada juga kerugian, termasuk semua polusi dan limbah yang dibuat, sebagai efek samping oleh mesin dan bahan kimia yang digunakan dalam proses industri.
Banyak masalah lingkungan modern, seperti perubahan iklim, berakar pada perubahan produksi dan transportasi yang disebabkan oleh revolusi industri.

Demikianlah artikel saya mengenai sejarah dan tantangan yang harus kita hadapi mengenai revolusi teknologi diindonesia ini, semoga dari pemerintah menekakan indonesia agar semua masyarakat siap dalam menghadapi revolusi teknologi selanjutnya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel